Begini & Begitu.
“Begini saja, ke situs sejarah saja kita. Di Medan cukup, tak usah jauh-jauh yang penting sama kau-aku sudah bahagia”
-ingat kalimat ini? Saat kau dan aku sedang manis-manisnya, madu hutan jadi penakut main-main ke kota Medan. Pesimis mungkin, andai dia bertemu kita pada hari itu.
“Begitu saja, ide-mu kita pakai sebagai pilihan kita mau kemana hari ini, aku tak suka perjalanan jauh bahkan dengan kau pun aku tak nyaman. Tak tau kenapa,mungkin karena terbiasa di kota Medan ini dengan mu”
-ingat tanggapan mu tentang ide-ku? Saat kau dan aku sedang naif meng-iya-kan ide apapun, “yang penting dengan kau” hanya itu di benak.
Begini saja -mu selalu ku setujui dengan Begitu saja -ku. Mungkin walau Tjong A Fie tak lagi di rumahnya, dia tau kau dan aku menyimpan ingin dan angan menetap di rumahnya akibat suasana sendu dan hangat yang di tiup angin masuk melalui jendela-jendela antik itu.
Beratus potret tentang mu dan rumah itu ku tangkap sebagai cinderamata untuk kamar ku yang menjadi markas berjuta khayal; berjuta perangkat keras yang beranjak lunak akibat ku ceritakan kisah ku tentang mu di rumah itu.
“Di Medan saja cukup aku menyimpan rindu pada ide-ide mu; Di Medan saja cukup aku menyusun setapak sejarah perkenalan kita; Di Medan saja cukup alasan-ku menjadikan mu setumpuk hal yang tak ingin ku lepas dan setumpuk hal yang aku akan simpan di titik paling dalam di balik belulang rusuk ku”
Di Medan kau tak akan kulepas, Di Medan kau alasanku rindu.


Comments
Post a Comment