Mencumbu Waktu.


Awal-an selera serupa ber-akhir-an gairah.

Di mulai di sebuah kata yaitu “Pinjam” , ku me-mulai hal acak kita.

Cara mu yang kontras memandang dunia se-kontras cara ku menjadi bulan paling terang di malam paling gelap di bumi bagiku. Imajinasi kita yang dianggap banyak orang sebagai hal fiksi terlihat sangat fakta saat ini dan bisa jadi bertahan sampai saat nanti, se liar lalat yang mustahil tertangkap tangan kosong se liar itu juga imajinasi kita yang tak tertangkap manusia sok rasional jaman sekarang.

Se-iring berjalan nya waktu 100 tahun siang hampir bosan mengisi masa sebelum malam.

Kita di tuliskan dalam jadwal pertemuan setelah jenuh diruang tunggu menunggu temu, tulisan tuhan di sah-kan melalui stempel tuhan “takdir”. Aku teramat bahagia tuhan tak lupa dengan kita yang tak sadar menunggu satu sama lain untuk saling menampung beban lalu membuangnya ke samudera hindia, kau air terbaik untuk menghanyutkan kotoran beban di toilet hidup ku.

Men-jelaskan hal yang kita anggap tak jelas di tiap bingkai kejadian berupa potret-potret pengalaman tak indah.

Penjelasan itu lebih layak di sebut aroma kayu di hutan setelah hujan reda, sangat menenangkan sampai percaya di dunia hanya tinggal kita berdua. Perihal dosa dan pahala atau dunia dan akhirat kita bungkus dengan warna yang aku kira lebih indah dari bibir pantai di surga sehingga lupa akan kata “tak indah” yang lama bersarang di gudang tua menyeramkan dalam otak kita.

Sub-Alam seperti sungai dan hutan adalah kelas hiburan sebagai kelas tambahan di waktu jenuh mu
dan ku.

Mulai dari cerita bayangan romansa nenek moyang yang sangat harum di udara sungai kemarin sampai tak sadar waktu berhenti sejenak lalu kembali ke masa lalu dan terbang melesat ke masa depan dan di hempaskan kembali ke saat ini. Indra ku yang lima tak cukup untuk menyadarkan atas realita hidup yang tak seindah itu, tapi betapa bersyukurnya aku yang terjebak di keadaan tak sadar ini.

Ter-akhir,kopi pahit bertemu susu kocok coklat manis di bawah atap kain yang sedikit bocor di terjang ombak dari lautan awan menjadi “pembuka” pada ayat ciptaan kita.

Sangat menyenangkan sekali bagiku, seperti saat dulu semasa belia di ajak berkeliling karnival yang penuh dengan arkade berhadiah boneka beruang, dengan latar cahaya hijau kita berkelana menembus waktu tanpa pikiran. Kau menantangku mencoba berbagai arkade disana dengan nada yang memanjakan tubuh ku sehingga jiwa terikut paksa sampai hampir terlepas di terpa angin waktu melambai ke masa masa kelam sampai tecebur ke kubangan hal paling indah di dunia.

Comments

  1. "Indra ku yang lima tak cukup untuk menyadarkan atas realita hidup yang tak seindah itu, tapi betapa bersyukurnya aku yang terjebak di keadaan tak sadar ini." <3

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts