Dekade Api


     




        
     Rasa tak lagi serimbun hutan hujan,kering kerontang membakar kulit serupa gurun kalahari. Kemana mau dibawa rasa ini?

Di benamkan di palung,kembali mengapung.


Di kubur batu, semakin padu.

“satu dekade langit itu murung, pujangga. Satu dekade dia di rodam api asmara”

       Peluh benci bercucur sebesar biji jagung, bercucur se-banyak air di laut mati. Kemana amarah ini kan ber-arah?

Sepuluh tahun ku tanam ribuan pokok kaktus di balik belulang rusuk renta, kukira cuma duri yang menyakiti. Pantang pohon kering di percik api,terbakar hutan kaktus tadi menyambar kulit jantung dan sekitarnya.

Katanya dia di paksa minum arak,arak bercambur minyak di paksa wanita nya sampai mabuk. Di teguknya semangat,di genggam nya kokoh botol itu. Terasa sedap di mulut pembualnya mengalir sampai mengelupas kulit tenggorokannya dan berakhir di lambung pembohong berisi sari-sari nista.

      Habis mabuk sembilan tahun,di cumbu wanitanya dia dengan liur sepanas lahar. Memang hangat rasa bibirnya; memang lembut lidah api menjilat mulut gurun tengah hari; memang meng-gairahkan goyangan canda sendu badan setan ini; ber-keringat-lah dua makhluk laknat yang sedang bergurau saling menipu luka masa depan.

Tak sadar minyak sudah mengalir menyatu dengan darah, tak sadar empuk badan nya di terkam macan api.

Terbakarlah tubuh lemah nya pada satu tahun terakhir, meleleh la kulit-kulit badan nya di bakar api asmara wanita penipu rasa.

Comments

Popular Posts